Senin, 11 April 2011

IPNU-IPPNU Anti Terorisme !

Salam Belajar, Berjuang, Bertaqwa !

Densus 88 adalah pasukan anti teroris yang telah beberapa kali berhasil mengamankan serta menyerbu aksi teroris di Indonesia, dengan munculnya teroris-teroris muda maka kami Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Kecamatan Paninggaran Kab. Pekalongan Jawa Tengah, mendukung upaya pemerintah dalam memberantas teroris di Negara Indonesia tercinta ini. 

Dengan menanamkan cinta tanah air sejak dini, dan memberikan pemahaman tentang kajian keilmuan islam mengenai pentingnya nasionalisme bagi generasi muda Indonesia, IPNU-IPPNU tidak hanya melakukan kajian ilmu keagamaan saja namun upaya menanamkan rasa cinta tanah air dan patriotisme juga digalakkan dalam pengkaderan, salah satu contoh adalah melaksanakan kegiatan DIKLATAMA ( Pendidikan dan Latihan Pertama ) dengan materi diantaranya yaitu wawasan kebangsaan dan bela Negara, SAR, P4DU, peduli lingkungan, yang bekerjasama dengan pihak TNI, POLRI, SAR, PMI dan tokoh agama sebagai tim pelatih. 

Disamping hal tersebut, generasi muda harus dibina dan diarahkan untuk sering menyanyikan serta mengetahui arti dari Lagu Kebangsaan Indonesia.
Diharapkan, upaya itu mampu meningkatkan peran serta pemuda, masyarakat, pemerintah dan organisasi sosial dalam mencegah aksi terorisme.

Menurut Ketua PAC. IPNU Paninggaran Kab. Pekalongan, Nasikhu, ancaman teroris sangaat membahayakan bagi Negara kita ini, dengan adanya kegiatan yang mampu memberikan wawasan kebangsaan dan rasa nasionalisme bagi pemuda, maka harapannya para kader IPNU-IPPNU mampu menepis aliran-aliran keras yang saat ini semakin meluas, dan sudah seharusnya semua elemen masyarakat dengan pemerintah  bekerjasama dan saling berkoordinasi dalam menghadapi ancaman terorisme di daerahnya.

"Berbagai cara bisa dilakukan, kami dari pemuda IPNU-IPPNU mengadakan pelatihan dan wawasan kebangsaan guna membekali para generasi muda Nahdlatul Ulama pada khususnya agar tidak terpengaruh oleh paham-paham teroris.” ujar ketua PAC IPNU Paninggaran ini.

Bagaimana sejarah dan arti Lagu Kebangsaan Indonesia Raya?

Ketika mempublikasikan Indonesia Raya tahun 1928, Wage Rudolf Soepratman dengan jelas menuliskan “…Lagu Kebangsaan…” di bawah judul Indonesia Raya. Teks lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali oleh surat kabar Sin Po. Setelah dikumandangkan tahun 1928, pemerintah kolonial Hindia Belanda segera melarang penyebutan lagu kebangsaan bagi Indonesia Raya. Meskipun demikian, para pemuda tidak gentar. Mereka ikuti lagu itu dengan mengucapkan “Mulia, Mulia!”, bukan “Merdeka, Merdeka!” pada refrein. Akan tetapi, tetap saja mereka menganggap lagu itu sebagai lagu kebangsaan. Lirik lagu Indonesia diatas adalah official lyric versi tahun 1958.
Dengan mendalami satu per satu dalam setiap bait demi bait sajak lagu Indonesia Raya, kita akan menemukan semangat Cinta Tanah Air yang tinggi dan mulia yang coba ditularkan oleh Wage Rudolf Supratman dan segenap pahlawan perjuangan kemerdekaan Indonesia yang mencita-citakan tegaknya pemerintahan yang berdaulat, berdirinya negara yang dibangun dan dipelihara oleh orang Indonesia asli, oleh anak-anak ibu pertiwi yang siap menjadi pandu bagi ibunya. Lihatlah bagian sajak berupa seruan untuk bersatu, untuk mendoa akan kebahagiaan negeri yang juga merupakan kebahagiaan rakyatnya, dan janji keabadian negeri ini…lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan ibarat lagu pujian, rasa syukur, serta doa yang dikumandangkan segenap rakyat Indonesia kepada Tuhan yang Maha Kuasa, sehingga akhirnya tercapailah kemerdekaan yang didamba-dambakan itu..
Kini, setelah roda waktu menggilas negeri ini, telah 65 tahun sudah Indonesia berusaha mengisi kemerdekaannya.. untaian kata-kata yang memiliki mukzizat dalam mempersatukan perjuangan pemuda Indonesia pada 28 Oktober 1928, yang bertuah menjadikan Indonesia merdeka pada tahun 1945 kini telah kehilangan kekuatannya, kehilangan mukzizat dan daya saktinya untuk mempersatukan bangsa sehingga perpecahan atas nama agama, suku, dan ras makin sering terjadi, kedaulatan bangsa dikoyak-koyak luar dalam…
Kumandang lagu Indonesia Raya saat kini tidak lagi terasa kesakralannya. Di upacara-upacara institusi sekolah maupun instansi pemerintah, koor Indonsia Raya hanya formalitas belaka karena sebagian besar peserta lebih asyik mengobrol. Dalam kenyataannya justru lagu-lagu yang dapat lebih dihayati oleh masyarakat sekarang adalah lagu-lagu komersial dengan tema yang monoton dan tidak membangun jiwa bangsa . Tema-tema yang menginspirasi masyarakat jatuh dalam dunnia cinta individual dan menjauh dari rasa cinta tanah air. Ketika lagu Indonesia Raya dikumandangkan, mereka tidak lagi merasakannya sebagai suatu lagu yang khusus sifatnya, tapi merasakannya sama seperti lagu lainnya. (Padahal lagu lainnya sedikit yang berjiwa kebangsaan) Kehilangan arti dan makna dari lagu kebangsaan dalam waktu yang lama berakibat memperlemah jiwa kebangsaan, dan menurunnya rasa berbangsa dan bernegara. Lemahnya nasionalisme pada sebagian bersar warga negara, akan berdampak pada kewibawaan negara yang semakin jatuh, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
..Di ruang maya yang ada ini, kami berupaya memaknai kembali makna lagu Indonesia raya dan menggali kesakralan kata-katanya…
“Indonesia Tanah Airku, Tanah Tumpah Darahku…Disanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku”
Menanamkan rasa memiliki negeri, Tanah Air Indonesia adalah tempat untuk berkarya dan berdarma bakti warga negara Indonesia dengan kerja keras membanting tulang, menguras keringat dan air mata, sampai menumpahkan darah. Sikap setiap warga terhadap ibu pertiwi atau tanah air Indonesia selayaknya sikapnya terhadap ibu kandung.
” Indonesia kebangsaanku, Bangsa dan tanah airku. Marilah kita berseru, Indonesia bersatu ..!”
Setiap warga negara Indonesia, berusaha sedapat mungkin menjauhkan semua hal yang dapat memecah belah Indonesia dan sebagai seruan untuk mengingat persatuan adalah kunci untuk keabadian NKRI.
“Hiduplah tanahku, Hiduplah negeriku, Bangsaku, Rakyatku semuanya, Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya, Untuk Indonesia Raya..”
Seruan yang mengingatkan setiap warga negara Indonesia untuk senantiasa mendoakan negeri ini agar tidak berhenti memberikan kehidupan turun temurun kepada anak negerinya. Harapan agar generasi penerus kelak akan melanjutkan kedaulatan negeri ini dengan Jiwa dan Raga yang telah terbangun. Bangun jiwa diletakkan lebih dahulu dengan maksud warga negara Indonesia haruslah lebih mengutamakan membangun jiwa kebangsaan, ruh nasionalisme, semangat berbangsa dan bernegara, mental spiritual dengan sangat prima, dan menjadi prioritas utama, baru membangun fisik berupa teknologi, infrastruktur, kemapanan hidup masyarakatnya.
“Indonesia Raya merdeka merdeka, Tanahku negeriku yang kucinta (2x)” Berupa doa dan harapan dari bangsa indonesia yang mencintai negerinya agar senantiasa merdeka dari berbagai bentuk penindasan kemanusiaan, seluruh wilayah Indonesia harus benar-benar merdeka, tidak ada lagi penjajahan, penyerobotan dari pihak asing, tidak ada penguasaan daerah oleh pihak asing.

Salam Belajar, Berjuang, Bertaqwa !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar